Gerakan Menuju Masyarakat Kota Banjar Sadar Bencana

10 Feb 2017 14:28:15
dilihat : 428 kali

Kota Banjar merupakan daerah dataran dengan luas wilayah mencapai 131,97 km2 dan berada pada ketinggian antara 20 sampai dengan 500 meter di atas permukaan laut (mdpl) serta beriklim tropis. Sebagian besar wilayah Kota Banjar berada pada ketinggian kurang dari 100 mdpl yaitu mencapai 87,10 persen dan sisanya sebesar 12,90 persen berada di ketinggian 100-500 mdpl. Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Banjar, tercatat rata-rata curah hujan dalam setahun mencapai 408,4 milimeter terlihat bahwa curah hujan di wilayah ini tinggi terjadi bulan Januari dan berangsur menurun pada pertengahan tahun, sementara bulan Desember merupakan puncaknya yang mencapai angka 574mm. Tingginya intensitas curah hujan sangat membantu usaha sektor pertanian yang mengandalkan ketersediaan air yang cukup untuk menanam padi dan palawija, serta tanaman hortikultura (sayuran dan buah-buahan). Walaupun demikian, curah hujan yang tinggi ternyata menjadi dilema pula bagi sebagian masya-rakat Kota Banjar yang tinggal di lereng-lereng perbukitan dan sepanjang aliran Sungai Citanduy. Mereka senantiasa didera rasa was-was karena bencana banjir dan tanah longsor dapat mengintai setiap saat dan sulit diduga.

Oleh karena itu, upaya preventif selayaknya terus dilakukan untuk menghindari kejadian bencana yang lebih besar dan merugikan. Salah satunya adalah memberikan informasi yang cukup pada masyarakat tentang titik-titik wilayah rawan bencana dan ketersediaan lembaga tanggap bencana di tiap-tiap desa/kelurahan mutlak pula diperlukan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, STIKes Bina Putera Banjar sejak tiga tahun yang lalu menambah kajian mata kuliah manajemen disaster atau manajemen bencana sebagai mata kuliah institusi. Mata kuliah ini membahas tentang konsep, jenis, klasifikasi, dan karakteristik bencana, dampak bencana terhadap kesehatan, prinsip penanggulangan kedaruratan bencana, persiapan bencana, penilaian sistematis, tindakan-tindakan keperawatan selama fase bencana, perawatan pesikososial dan spiritual bagi korban bencana, perawatan bagi populasi rentan, aspek etik dan legal pada bencana, perlindungan bagi petugas, pendekatan interdisiplin, pemulihan pasca bencana, dan penerapan evidence base dalam keperawatan bencana. Kegiatan belajar mahasiswa berorientasi pada pencapaian kemampuan berfikir kritis, sistematis, dan komprehensif dalam mengaplikasikan konsep keperawatan bencana dengan pendekatan holistik, etis, dan peka budaya.

Sasaran Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan pembelajaran mata kuliah ini, mahasiswa akan mampu:

  1. Menjelaskan sistem penanggulangan bencana terpadu yang terintegrasi pada sistem pelayanan kesehatan secara komprehensif dan sistematis
  2. Melakukan simulasi penilaian secara cepat, tepat, dan sistematis pada keadaan sebelum, saat, dan setelah bencana
  3. Melakukan simulasi pendidikan kesehatan pencegahan dan penanggulangan bencana dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip dan teori pembelajaran orang dewasa
  4. Mendemonstrasikan pertolongan korban bencana dan penanggulangan bencana dengan memperhatikan keselamatan korban dan petugas, keselamatan dan keamanan lingkungan
  5. Melakukan simulasi perencanaan penanggulangan bencana di berbagai area pelayanan kesehatan dan non pelayanan kesehatan dengan pendekatan interdisiplin serta menerapkan aspek etik, legal, dan peka budaya

Bencana adalah hasil dari munculnya kejadian luar biasa (hazard) pada komunitas yang rentan (vulnerable) sehingga masyarakat tidak dapat mengatasi berbagai implikasi dari kejadian luar biasa tersebut. Manajemen bencana pada dasarnya berupaya untuk menghindarkan masyarakat dari bencana baik dengan mengurangi kemungkinan munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan.  Terdapat lima model manajemen bencana yang dikenalkan kepada mahasiswa diantaranya yaitu:

  • Disaster management continuum model. Model ini mungkin merupakan model yang paling popular karena terdiri dari tahap-tahap yang jelas sehingga lebih mudah diimplementasikan. Tahap-tahap manajemen bencana di dalam model ini meliputi emergency, relief, rehabilitation, reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning.
  • Pre-during-post disaster model. Model manajemen bencana ini membagi tahap kegiatan di sekitar bencana. Terdapat kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum bencana, selama bencana terjadi, dan setelah bencana. Model ini seringkali digabungkan dengan disaster management continuum model.
  • Contract-expand model. Model ini berasumsi bahwa seluruh tahap-tahap yang ada pada manajemen bencana (emergency, relief, rehabilitation, reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning) semestinya tetap dilaksanakan pada daerah yang rawan bencana. Perbedaan pada kondisi bencana dan tidak bencana adalah pada saat bencana tahap tertentu lebih dikembangkan (emergency dan relief) sementara tahap yang lain seperti rehabilitation, reconstruction, dan mitigation kurang ditekankan.
  • The crunch and release model. Manajemen bencana ini menekankan upaya mengurangi kerentanan untuk mengatasi bencana. Bila masyarakat tidak rentan maka bencana akan juga kecil kemungkinannya terjadi meski hazard tetap terjadi.
  • Disaste risk reduction framework. Model ini menekankan upaya manajemen bencana pada identifikasi risiko bencana baik dalam bentuk kerentanan maupun hazard dan mengembangkan kapasitas untuk mengurangi risiko tersebut.

Kegitan simulasi yang dilakukan oleh mahasiswa semester 7 program A dan semester 3 program B ini pada hari kamis tanggal 02 Februari 2017 bekerjasama dengan team dari Badan Penanganan dan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjar ini mendapat apresiasi dari pihak Babinmas dan Babinsa Kecamatan Pataruman Kota Banjar. Menganggap bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal menuju Masyarakat Kota Banjar Sadar Bencana. Diharapakan pula kegiatan pengendalian bencana dimulai dengan membangun kesadaran kritis masyarakat dan pemerintah atas masalah bencana alam, menciptakan proses perbaikan total atas pengelolaan bencana, penegasan untuk lahirnya kebijakan lokal yang bertumpu pada kearifan lokal yang berbentuk peraturan nagari dan peraturan daerah atas menejemen bencana. Yang tak kalah pentingnya dalam manajemen bencana ini adalah sosialisasi kehatian-hatian terutama pada daerah rawan bencana.

Created By: Aneng Yuningsih, M.Kep